Eksistensialisme adalah aliran yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas diantara makhluk lainnya. Pandangan ini menyatakan bahwa pusat diri kita adalah diluar diri kita. Jadi kita harus melihat keluar diri kita sendiri untuk mengetahui diri kita. Pandangan ini menyatakan bahwa hanya manusia lah yang bereksistensi. Tidak bisa disamakan dengan "berada" yang lain. Pohon atau anjing berada itu tidak sama dengan manusia bereksistensi.
Ciri-ciri eksistensialisme
•Motif
pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
•Bereksistensi hrs diartikan scr dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri scr aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
•Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pd dunia sekitarnya, khususnya pd sesamanya.
•Memberi penekanan pd pengalaman konkrit.
Eksistensisme sulit diragamkan definisinya karena banyak sekali pendapat-pendapat dari para orang-orang terkemuka. Tapi pada hari ini saya akan membahas Eksistensi menurut Kirkegaad dan Sartre.

Eksistensi menurut Kierkegaad
Kierkegaad adalah seorang bapak eksistensialisme, aliran filsafat yang berkembang 50 tahun setelah kematiannya.
Pokok-pokok ajaran Kierkegaad:
- menurut Kierkegaard eksistensi menusia individual dan konkret. Manusia tidak dapat dibicarakan ‘pada umumnya’ atau ‘menurut hakekatnya’, karena manusia pada umumnya tidak ada. Yang ada itu adalah manusia konkret yang semua penting, berbeda dan berdiri di hadapan Tuhan. Manusia itu eksistensi.
- Eksistensi bagi Kierkegaard: merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya.
- Hanya manusia bereksistensi, karena dunia, binatang dan sesuatu lainnya hanya ‘ada’. Juga Tuhan ‘ada’. Tapi manusia harus bereksistensi, yakni menjadi seperti ia (akan) ada (secara abadi).
- Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yg dikuasai oleh perasaan. Cara hidup yg amat bebas.
- Sikap etis: Sikap menerima kaidah-kaidah moral, suara hati dan memberi arah pd hidupnya.
- Sikap religius: Berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian. Karena manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diriNya pada manusia.
- ‘Percaya itu sama dengan menjadi’. Disini dan kini manusia percaya dan menentukan bagaimana dia akan ada secara abadi. Manusia memilih eksistensinya entah sebagai penonton yg pasif, atau sebagai pemain yang menentukan sendiri eksistensinya dengan mengisi kebebasannya.
- Manusia hidup dalam dua dimensi sekaligus: keabadian dan waktu. Kedua dimensi itu bertemu dalam ‘saat’. Saat adalah titik dimana waktu dan keabadian bersatu. Kita menjadi eksistensi dalam saat, yaitu saat pilihan. Pilihan itu suatu ‘loncatan’ dari waktu ke keabadian.
- Eksistensi manusia bukan sekadar suatu fakta, tapi lebih dari itu. Eksistensi manusia adalah tugas, yang harus dijalani dengan kesejatian sehingga orang tidak tampil dengan semu. Untuk itulah Kierkegaard menganggap subyektivitas dan eksistensi sejati itu suatu tugas.
- Publik bagi Kierkegaard hanya abstraksi belaka, bukan realitas. Publik menjadi berbahaya bila itu dianggap nyata.
Eksistensi menurut Jean Paul Sartre
Sartre banyak menulis karya filsafat dan sastra. Pernah menjadi dosen filsafat di Le Havre, Paris.Pemikiran filsafat Sartre:
- Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran.
- Asas pertama untuk memahami manusia harus mendekatinya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggung jawab.
- Tanggung jawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggung jawab terhadap diri kita sendiri.
- Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka.
- Berada dalam diri -- berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Misalnya, meja itu meja, bukan kursi, bukan tempat tidur. Mentaati prinsip it is what it is. Maka bagi Sartre segala yang berada dalam diri: Memuakkan.
- Berada untuk diri -- berada yang dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Manusia punya hubungan dengan keberadaannya. Bertanggung jawab atas fakta bahwa ia ada.Misalnya, saya bertanggung jawab dan sadar bahwa saya adalah mahasiswa psikologi.
- Tempat kita berada: situasi yang memberi struktur pada kita, tapi juga kita beri struktur.
- Masa lalu: tidak mungkin meniadakannya karena masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
- Lingkungan sekitar
- Kenyataan adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiri.
- Maut: tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.
Komunikasi dan cinta
- Komunikasi adalah suatu hal yang apriori, tak mungkin tanpa adanya sengketa, karena setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yg seorang seolah-olah membekukan orang lain. Terjadi saling pembekuan sehingga masing-masing jadi objek.
- Cinta adalah bentuk hubungan keinginan saling memiliki. Akhirnya cinta bersifat sengketa karena objektifikasi yang tak terhindarkan.
- Apapun makna yang diberikan pada eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggung jawab.
- Tanggung jawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggung jawab terhadap diri kita sendiri.
- Yang mengurangi kebebasan manusia salah satunya adalah masa lalu: tidak mungkin meniadakannya karena masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
- Cinta adalah bentuk hubungan keinginan saling memiliki. Akhirnya cinta bersifat sengketa karena objektifikasi yang tak terhindarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar